Benarkah ini keluhan maag biasa, atau jangan-jangan batu empedu?

By Island Hospital   |   17.12.2018

Seringkah dalam keseharian, kita merasakan mual dan sakit di sekitar ulu hati, serta tidak nafsu makan? Sebagian besar mungkin dengan cepat akan mengatakan bahwa itu adalah gejala maag atau penyakit asam lambung lainnya.

Benarkah demikian? Karena seringkali, gejala di atas justru mengindikasikan adanya batu empedu.

Gejala maag dan batu empedu memang sangat mirip, karena keduanya dapat dirasakan di area sekitar ulu hati, yakni lambung dan kantong empedu. Tetapi terkadang memang tidak sesederhana itu, karena gejala batu empedu lebih sering menyerang setelah kita makan. Namun tetap saja banyak masyarakat kita keliru menganggap gejala batu empedu yang menyerangnya sebagai gejala penyakit maag.

Penyakit batu empedu dapat terjadi akibat membatunya cairan yang dihasilkan oleh hati (liver) dan menumpuk di kantung empedu.

Sementara maag merupakan penyakit yang muncul akibat adanya luka atau bakteri (bernama H. Pylori) di lambung, usus halus, dan/atau kerongkongan, sehingga mengganggu pencernaan dan asam lambung.

Bagaimana cara membedakannya? Sebelumnya, mari pahami batu empedu lebih dalam.

 

 

 

Batu empedu terbentuk akibat membatunya zat cair yang dihasilkan oleh liver, zat ini seharusnya bertugas memecah dan mencerna lemak, namun malah mengeras dan menumpuk hingga menyumbat di sepanjang sistem empedu, yaitu kantung dan salurannya.

 

Batu empedu dapat terbentuk karena 2 hal: yakni kolesterol (menyebabkan batu kolesterol) dan bilirubin atau kalsium (menyebabkan batu pigmen).

Ukurannya pun bervariasi, dari sekecil pasir hingga sebesar bola golf. Jumlah batunya dapat mencapai ribuan dan bentuknya pun berbeda-beda, tergantung dari asal terbentuknya.

Berikut adalah penjelasan kedua jenis batu empedu:



 

Penumpukan kolestrol menjadi penyebab paling umum terbentuknya batu empedu (mencapai 80% kasus di seluruh dunia). Umumnya berwarna hijau, namun terkadang berwarna putih atau kuning. Batu ini dapat terbentuk jika kantung empedu menampung terlalu banyak kolesterol dibandingkan dengan garam empedu (yaitu kandungan yang mengencerkan butir lemak pada makanan). Selain itu, keberadaan batu ini juga disebabkan beberapa faktor lain yaitu kekuatan kontraksi empedu dan asupan protein dalam liver.

Dibentuk dari bilirubin atau kalsium, batu ini berukuran kecil dan berwarna gelap. Jenis ini berkontribusi sekitar 20% dari keseluruhan kasus batu empedu. Biasanya batu pigmen menyerang pasien yang memiliki penyakit sirosis (infeksi liver kronis dimana terjadi luka di beberapa bagian liver), infeksi saluran empedu, riwayat kelainan darah pada keluarga, atau kondisi anemia sel sabit (kekurangan darah akibat kelainan genetik yang menyebabkan abnormalitas pada bentuk sel darah merah). Jika saluran empedu tersumbat oleh batu jenis ini, akan terjadi perkembangbiakan juga penyebaran bakteri hingga terjadi infeksi di dalam saluran, kemudian dapat menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan infeksi di bagian tubuh lainnya.

Di Indonesia, kasus penyakit batu empedu biasa disebabkan oleh batu pigmen. Hal ini umumnya dipicu oleh kuman yang berasal dari makanan. Kuman ini akan menyebabkan infeksi pada saluran empedu yang dapat menjalar tanpa membuat peradangan, sehingga mengakibatkan cairan empedu mengendap dan mengeras menjadi batu. Di sebagian besar kasus, infeksi yang menyebabkan hal ini adalah penyakit tifus (tifoid), karena kuman yang menjadi penyebabnya seringkali menumpuk di kantung empedu.

Banyak yang berasumsi bahwa semakin besar batu empedu akan semakin berbahaya, namun nyatanya, batu kecil juga sangat berbahaya karena mempunyai kemungkinan dapat keluar dari kantung dan saluran empedu, kemudian menyerang, bahkan menyumbat organ lain di dalam tubuh.

Umumnya batu empedu tidak memiliki gejala apa pun pada masa awal pembentukannya. Namun, jika sudah berukuran di atas 8 mm, akan berisiko besar menyumbat kantung empedu, di kondisi inilah berbagai macam keluhan akan timbul.

Pada dasarnya, kantung empedu mampu berkontraksi secara alami, sehingga dapat mendorong keluar cairan atau batu yang menumpuk di dalamnya. Namun jika tumpukannya terlalu banyak/terlalu besar, maka akan berisiko menyumbat di saluran empedu.

Keluhan utamanya yakni berupa nyeri yang muncul tiba-tiba dengan sangat hebat di bagian tengah atau kanan atas perut, sering disebut dengan istilah kolik bilier. Rasa sakit ini akan semakin memburuk (mulai dari hitungan menit hingga berjam-jam lamanya) sebelum akhirnya menghilang. Rasa sakit tidak akan hilang dengan cara buang gas, buang air besar, atau muntah. Biasanya frekuensi terjadi/munculnya rasa sakit ini rendah, tetapi akan dapat dengan mudah timbul bila dipicu oleh jenis makanan tertentu.

Selain itu, kita juga dapat merasakan nyeri di punggung (antara kedua tulang belikat), atau di bawah pundak kanan. Jika pembentukan batu empedu sudah sangat mengganggu kesehatan, dapat muncul berbagai gejala seperti penurunan berat badan secara drastis dan kesulitan buang air besar.

Salah satu perbedaan yang cukup besarnya yaitu, pada maag, rasa nyeri di perut dirasakan perlahan-lahan hingga rasa sakit menjadi lebih intens. Sedangkan, rasa sakit batu empedu akan menyerang secara tiba-tiba dengan sangat kuat, lalu dapat menghilang begitu saja.

Perbedaan yang lain yakni pada faktor penyebab rasa sakitnya. Maag dapat menyerang kapan saja jika pola makan kita tidak teratur atau berlebihan, terutama

bisa terjadi sesaat setelah mengonsumsi makanan berlemak. Sedangkan batu empedu umumnya dirasakan pada malam hingga dini hari, atau bisa juga sekitar 2-4 jam setelah mengonsumsi makanan berlemak.

Selain mirip dengan penyakit maag, rasa nyeri batu empedu juga sangat menyerupai rasa nyeri yang disebabkan oleh batu ginjal.

Di samping rasa nyeri yang hebat ini, sejumlah gejala lain dapat berupa rasa mual disertai muntah, buang gas berlebihan, dan diare. Jika keluhan tadi disertai dengan demam yang agak tinggi, menguningnya mata/kulit, dan berubahnya warna tinja menjadi sangat pucat atau justru lebih gelap, segeralah temui dokter.

Jika dibandingkan dengan pria, kaum wanita memiliki risiko yang lebih tinggi terkena penyakit batu empedu, dengan angka perbandingan sebesar 1:3. Hal ini terutama dikarenakan oleh kandungan hormon estrogen yang lebih banyak dihasilkan tubuh wanita secara alami. Kenaikan kadar hormon estrogen juga dapat mengurangi kontraksi dan meningkatkan kandungan kolesterol dalam empedu, sehingga memudahkan pembentukan batu kolesterol. Biasanya wanita berumur mulai dari 20 hingga 60 tahun, atau sedang hamil, dapaat memiliki risiko lebih tinggi terjadinya pembentukan batu empedu.

Di samping itu, biasanya seseorang lebih rentan terserang penyakit batu empedu jika memiliki faktor seperti berikut:

· Berusia di atas 40 tahun

· Obesitas/kelebihan berat badan

· Tidak bisa mempunyai anak akibat infertilitas

· Memiliki riwayat penyakit batu empedu dalam keluarga

· Memiliki diabetes atau sirosis

· Tingkat kadar hormon estrogen berlebihan

· Mengonsumsi obat yang bekerja untuk mengurangi kolesterol, namun justru mengeluarkan kolesterol berlebih ke dalam kantung empedu

· Mengonsumsi obat yang mengandung hormon estrogen

Jika tidak segera ditangani

Batu empedu dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang dapat memperburuk kesehatan dan memperbesar pembentukan batu itu sendiri. Di antaranya mengakibatkan:

· Penyakit kuning

· Peradangan pada pankreas, yang dapat berakhir pada kegagalan fungsi organ tubuh tertentu

· Penyumbatan usus

· Peradangan kantung empedu (kolestitis)

· Empedu membengkak sehingga meningkatkan risiko terjadinya gagal ginjal

· Pecahnya kantung empedu

· Kematian bayi dalam kandungan

· Anemia

· Memicu pertumbuhan sel kanker

Walaupun hubungan antara pola makan dengan pembentukan batu empedu belum dapat terbukti secara klinis, namun kebanyakan ahli kesehatan masih memercayai

bahwa diet dengan makanan kaya serat, serta rendah kolesterol dan karbohidrat dapat berperan penting dalam mencegah terbentuknya batu empedu.

Sehingga, tipe diet yang termasuk konsumsi anggur dan roti gandum mungkin saja dapat menurunkan risikonya. Sebaliknya, kurangnya asupan ikan dan kandungan seperti folat, kalsium, dan vitamin, serta terlampau seringnya konsumsi daging merah berlemak dan nasi putih pun disinyalir dapat meningkatkan risiko terjadinya batu empedu.

Selain dari makanan, konsumsi minuman beralkohol yang berlebihan juga dapat meningkatkan risiko pembentukan batu empedu. Hal ini disebabkan oleh kandungan alkohol yang dapat mendorong penumpukan lemak di dalam liver, sehingga dapat menyebabkan sirosis, yang merupakan salah satu faktor risiko terbentuknya batu empedu. Terlebih lagi, mengonsumsi alkohol dengan jumlah berlebihan juga dapat menyebabkan diabetes.

Hindari juga konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh dan lemak trans. Kedua tipe lemak ini sangat berpengaruh pada tingkat kolesterol di dalam tubuh. Lalu, jangan lupa untuk menjaga dan memerhatikan kebersihan makanan dan minuman yang kita konsumsi, sehingga kita juga terhindar dari kuman penyebab terjadinya infeksi.

Terkadang, pasien yang melakukan pemeriksaan ke dokter merasa memiliki gejala maag, namun ternyata tidak kunjung sembuh walaupun telah diobati

Jika rasa sakit tidak kunjung membaik, bahkan setelah beberapa kali meminum obat seperti penurun asam lambung (antasida), sebaiknya minta dokter untuk melakukan pemeriksaan USG dan cek darah. Setelah hal tersebut dilakukan, fungsi liver akan dievaluasi (melalui observasi SGOT, SGPT, bilirubin direk, bilirubin indirek, dsb) yang abnormal.

Untuk menangani batu pada saluran empedu, dapat dilakukan tes diagnostik seperti Endoscopic Retrogade Cholangiopancreatography (ECRP), diikuti dengan prosedur Endoscopic Retrograde Sphincterotomy (ERS).

ECRP adalah suatu tes yang dilakukan untuk memeriksa saluran yang bertanggung jawab untuk mengeringkan pankreas, liver, dan kandung kemih. Pada pemeriksaan ini, dokter akan memantau pergerakan kantung empedu melalui monitor yang terhubung dengan endoskop, lalu menyuntikkan zat pewarna ke saluran empedu agar ketidaknormalan seperti penyempitan, batu, dan kanker dapat jelas terpampang di monitor.

Setelah mendapatkan hasil dari ECRP, mungkin dokter akan memutuskan untuk melakukan ERS. Prosedur ERS dilakukan dengan cara memasukkan endoskop melalui mulut, kerongkongan, lambung, hingga mencapai usus halus. Endoskop ini akan membuka lebar otot sfingter (otot yang mengatur keluar masuknya cairan) guna memindahkan batu empedu yang menyumbat saluran, agar menuju usus halus.

Banyak terjadi kesalahpahaman bahwa batu empedu dapat dipecahkan melalui penggunaan gelombang kejut (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy/ESWL) yang

biasa digunakan untuk memecah batu ginjal dan batu ureter. Namun faktanya, ESWL tidak mampu memecahkan batu empedu.

Jika pasien sudah mengalami gejala seperti rasa sakit di ulu hati, maka tindakan operasi pengangkatan kantung empedu (kolesistektomi) dapat menjadi jalan pilihan yang lebih baik. Namun tindakan ini hanya dikhususkan untuk pasien yang berada pada tahap gejala seperti diatas, terutama karena gejala batu empedu seringkali hilang timbul, sehingga pasien dapat merasa sudah sembuh, padahal kerusakan masih terjadi. Tindakan operasi ini memiliki dua pilihan, yaitu operasi semi tertutup (laparoskopi) dan operasi terbuka. Umumnya, operasi terbuka dikhususkan untuk pasien yang memiliki obesitas, terutama karena kantung empedunya tertutup oleh lemak.

Jika kita belum merasakan gejala apa pun, maka sebaiknya kita memilih pilihan tindakan lain.

Pada beberapa kasus (5-40% pasien), gejala tertentu akan timbul setelah kantung empedu diangkat. Gejala ini meliputi perasaan tidak nyaman hingga nyeri pada perut bagian kanan atas.

Karena gejalanya yang tidak terlalu spesifik, terkadang kita mengacuhkan rasa sakit dari batu empedu. Hal inilah yang dapat membuatnya menjadi berbahaya. Segeralah periksakan liver dan kantung empedu jika merasa berisiko tinggi memiliki batu empedu. Bila terdeteksi, konsultasikan dengan dokter penyakit dalam kami mengenai langkah selanjutnya.

Buat Janji Temu
Beli Paket Sekarang


28.08.2018
6 Langkah untuk Hidup Bahagia dengan Jantung Sehat

Kita sering mengabaikan, bahkan melupakan bahwa jantung adalah salah satu organ terpenting di tubuh manusia. Jantung merupakan organ tubuh yang tidak pernah berhenti bekerja keras agar kita tetap hidup. Ia berdetak sekitar 100.000 kali per hari, atau lebih dari 2,5 miliar kali dalam masa hidup rata-rata manusia. Mengetahui fakta ini, sekarang waktunya kita untuk menjadi lebih proaktif dalam menjaga kesehatan dan kebahagiaan jantung agar kinerjanya selalu optimal. Mengingat kesehatan jantung sangat penting, mari mulai menjaga jantung kita dari gangguan atau penyakit apa pun agar kita selalu sehat dan berumur panjang. Menjaga kesehatan jantung untuk menghindari penyakit kardiovaskular sangatlah penting, tetapi jangan jadikan hal itu sebagai satu-satunya alasan Anda.  

Selengkapnya
28.08.2018
12 Mitos Tentang Penyakit Jantung yang Sebelumnya Saya Yakini

Saat ini penyakit jantung tetap bertahan sebagai pembunuh nomor satu di banyak negara. Dan masih banyak persepsi yang salah tentang penyakit jantung. Sekarang saatnya kita membuka fakta yang sebenarnya, sebelum terlambat.

Selengkapnya
14.09.2018
7 Fakta Penyakit Jantung Koroner (CAD) yang Harus Anda Ketahui

Jenis penyakit jantung yang paling sering ditemui adalah penyakit jantung koroner, atau disebut juga sebagai penyakit arteri koroner, CAD (Coronary Artery Disease), arteriosklerosis koroner, dan aterosklerosis koroner. Berikut adalah 7 Fakta Penyakit Jantung Koroner (CAD) yang Harus Anda Ketahui

Selengkapnya
09.10.2018
Vaginitis: Apa yang penting diketahui oleh wanita?

Kesehatan vagina sangat penting dipertahankan oleh setiap wanita demi kondisi tubuh yang prima. Berbagai masalah pada vagina dapat menyebabkan masalah kesuburan, gairah seksual, dan kemampuan untuk orgasme. Lalu juga dapat memengaruhi tingkat stress, kepercayaan diri, dan hubungan dengan pasangan kita.

Selengkapnya
10.09.2018
Kista Ovarium

Rahim wanita memiliki dua indung telur (ovarium) yang masing-masing berbentuk dan berukuran sebesar almond. Satu di sisi kanan dan satu di sisi kiri, berfungsi untuk menghasilkan serta melepaskan sel telur matang (ovum) setiap bulan selama masa-masa subur wanita. Fungsi ovarium dapat terganggu akibat adanya perkembangan kista ovarium yang berbentuk kantung kecil berisi cairan dipermukaannya.

Selengkapnya
17.12.2018
Ketahui Gejala Miom dan Cara Mengobatinya

Fibroid rahim (atau miom) adalah sel-sel nonkanker yang bertumbuh pada uterus (rahim) dan kerap muncul di masa-masa subur wanita. Fibroid rahim, juga disebut dengan leiomioma atau mioma, tidak berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker rahim. Selain itu, fibroid ini hampir tidak pernah berkembang menjadi kanker.

Selengkapnya
06.12.2018
Kanker Kolorektal – Apa yang tidak Anda ketahui?

Mitos dan Realita tentang Kanker Kolorektal?

Selengkapnya
27.11.2018
Gejala dan Penanganan Tepat Untuk Glukoma

Glaukoma (sering disebut juga sebagai glukoma) berkaitan dengan kondisi di mana tekanan pada mata berada di atas batas normal (hipertensi okular). Jika tidak diobati atau tidak dikontrol, glaukoma dapat menjadi penyebab utama hilangnya penglihatan tepi (penglihatan perifer) yang dapat berujung pada kebutaan.

Selengkapnya
17.10.2018
Yang Perlu Diketahui untuk Mencegah Katarak

Mata kita memiliki beberapa bagian, salah satunya adalah lensa kristal alami mata yang berfungsi membantu kita fokus pada manusia dan objek lain pada jarak tertentu. Sayangnya, seiring dengan bertambahnya usia seseorang, lensa ini sering menegang dan mengeras, akibatnya lensa kehilangan kelenturan dan kemampuannya untuk fokus, sehingga menimbulkan masalah penglihatan.

Selengkapnya
11.04.2019
Retinopati Diabetik

Tahukah Anda bahwa retinopati diabetik adalah salah satu penyebab kebutaan dan kehilangan penglihatan?

Selengkapnya
17.12.2018
Perut sakit setelah makan pedas? Kenali gejala asam lambung yang lain

Hobi makan pedas atau makanan yang asam? Seperti sambal atau rujak, tetapi sering merasa menderita akibat sakit atau mulas pada perut dan tenggorokan terasa panas, setelah menikmati makanan favorit tersebut? Bisa jadi rasa tidak nyaman ini adalah salah satu gejala penyakit yang umum dialami, jika kita mengabaikan kesehatan lambung. Dalam dunia medis penyakit ini dikenal dengan nama Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), atau masyarakat umum mengenalnya sebagai penyakit asam lambung.

Selengkapnya
06.12.2018
Kanker Kolorektal – Apa yang tidak Anda ketahui?

Mitos dan Realita tentang Kanker Kolorektal?

Selengkapnya
27.12.2018
Berisiko terserang penyakit liver? JANGAN percaya 6 mitos ini!

Seberapa seringkah kita mendengar bahwa penyakit liver (penyakit hati) hanya menyerang seseorang yang merupakan peminum alkohol berat, atau terlalu sering begadang sampai larut malam?

Selengkapnya
06.12.2018
Stroke - Penyebab Utama Kematian Ketiga dan Apa Yang Anda Bisa Lakukan Tentang Ini

Saat sedang berlibur dengan keluarganya di Bogor, Jonathan*, 52 th, mengalami serangan stroke serius namun menolak untuk dibawa ke rumah sakit oleh istrinya hingga terlalu terlambat. Akibatnya, istrinya kerepotan mengurus administrasi rumah sakit, konsultasi dengan dokter, dan membawa suaminya pulang ke rumah dalam keadaan tidak berdaya. Istri Jonathan adalah seorang pengusaha dengan 4 anak yang berusia di bawah 19 tahun dan Ia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan efek berkepanjangan dari serangan stroke yang dialami Jonathan. Proses beradaptasi ke gaya hidup yang baru di mana Jonathan harus selalu dilayani baru terasa beratnya saat mereka pulang ke Jakarta. Jonathan harus menghabiskan waktu di rumah sakit selama 1 bulan, dan mengunjungi pusat rehabilitasi secara rutin selama 3 bulan. Ia telah kehilangan kemampuan untuk berbicara, menulis atau bahkan sekedar bergerak untuk menunjukkan apa yang ia butuhkan.

Selengkapnya
01.11.2018
Pentingnya Tes Kesehatan

Periksakan kesehatan Anda serta keluarga di Island Hospital dan nikmati anugerah kesehatan yang sempurna.

Di kehidupan yang sibuk di mana kita seringkali berpergian, seringkali kita lupa akan kesehatan.

Selengkapnya
29.11.2018
Aces Awards

Kesuksesan dari sebuah kerjasama

Selengkapnya