Kanker Kolorektal – Apa yang tidak Anda ketahui?

By Island Hospital   |   06.12.2018

Mitos dan Realita tentang Kanker Kolorektal?

Kanker kolorektal merupakan kanker paling umum ketiga di dunia. Walaupun bila dibandingkan dengan negara-negara Barat, kanker kolorektal masih kurang umum di Asia. Namun, tingkat kejadian Kanker Kolorektal di Asia cukup tinggi dan cenderung mengalami peningkatan pada populasi orang Asia. (Deng Y., 2017)

Sekalipun demikian, masih banyaknya mitos seputar kanker usus besar yang perlu diketahui dan disingkirkan:

MITOS:

Tidak ada yang dapat dilakukan bila mengalami penyakit kanker kolorektal.

REALITA:
Hanya sedikit orang saja yang mengerti bahwa kanker kolorektal mungkin dapat dicegah. Diet rendah-trans-lemak, tinggi sayuran, dan olahraga teratur yang diterapkan dalam gaya hidup Anda dapat mengurangi risiko terkena penyakit kanker kolorektal ini. Gaya hidup sehat termasuk dengan penghentian merokok dan konsumsi alkohol akan menurunkan risiko kanker kolorektal.

Karena kebanyakan kanker kolorektal berkembang dari polip non-kanker - pertumbuhan pada lapisan usus besar dan metode rektum-rektum dapat mendeteksi dan menghilangkan polip SEBELUM mereka menjadi kanker

MITOS
Kanker kolorektal sangat membahayakan.

REALITA 
Sebenarnya kanker kolorektal dapat disembuhkan jika terdeteksi sejak dini. 91% pasien yang mengalami kanker kolorektal lokal (terbatas pada usus besar atau rektum) dapat hidup lima tahun setelah diagnosis. Namun, hanya 37% dari pasien yang mengalami kanker kolorektal yang didiagnosis pada tahap ini. Sisanya pasien terlambat datang ke dokter.

MITOS
Pemeriksaan hanya diperlukan bagi mereka yang memiliki gejala.

REALITA
Karena pada fase awal kanker kolorektal tidak memiliki gejala khusus, pemeriksaan secara teratur tetap penting untuk dilakukan. Pria dan wanita yang berusia 50 atau lebih harus melakukan pemeriksaan secara teratur untuk mewaspadai kanker kolorektal. Pria dan wanita yang berisiko tinggi adalah mereka yang memiliki riwayat keluarga yang mengidap penyakit kanker kolorektal atau polip, atau riwayat pribadi mengidap penyakit radang usus, mungkin perlu dicheck lebih awal. Selain itu, wanita yang memiliki riwayat pribadi atau keluarga yang mengidap kanker ovarium, endometrium atau payudara mungkin perlu diperiksa sebelum berusia 50 tahun. Konsultasikan dengan gastroenterolog Anda untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

MITOS
Kolonoskopi sulit untuk dijalani.

REALITA:
Walaupun memiliki sedikit resiko, prosedur kolonoskopi biasanya tidak menyakitkan. Pasien biasanya tidak merasakan apa-apa selama prosedur dilakukan karena pasien akan dibius untuk meminimalisir ketidaknyamanan, yang sebagian besar ditimbulkan oleh gas yang dimasukkan guna memvisualisasikan bagian dalam usus besar. Pada beberapa pasien, itu bisa dilakukan tanpa prosedur sedasi.

Persiapannya sendiri dilakukan untuk menghilangkan seluruh kotoran dalam usus besar Anda sehari sebelumnya, mungkin merupakan bagian dari prosedur yang paling tidak nyaman bagi sebagian orang. Persiapan ini sangat penting karena memungkinkan dokter Anda untuk melihat lapisan usus dengan jelas. Persiapan yang tidak memadai dapat menyebabkan sesuatu yang terlewatkan atau kebutuhan untuk mengulangi prosedur.

MITOS:
Memiliki polip berarti sudah pasti saya mengidap kanker dan perlu operasi.

REALITA:
Polip adalah luka pra-kanker yang dapat berkembang menjadi kanker usus besar. Jika polip ini dapat dideteksi dan dihilangkan sebelum berkembang, kanker usus besar dapat dicegah. Ini merupakan gunanya kolonoskopi yang dapat mencegah terjadinya kematian akibat kanker usus besar - fakta ini ditunjukkan di negara-negara yang menawarkan pengecekkan kanker usus besar pada masyarakat mereka.

Polip jinak dapat benar-benar diobati dengan proses pengangkatan selama kolonoskopi. Bahkan yang bentuknya besarpun dapat dihilangkan melalui endoskopi oleh spesialis atau dengan operasi laparoskopi sederhana.

Jika kanker ditemukan di dalam polip, mungkin diperlukan tindakan operasi pengangkatan bagian usus besar tersebut. Bahkan jika memang diperlukan tindakan pembedahan, saat ini terdapat banyak prosedur yang dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan invasif minimal, untuk mempercepat waktu pemulihan, rasa sakit, dan banyak manfaat lainnya. Segera konsultasikan pada ahli bedah kolorektal Anda tentang pendekatan mana yang paling sesuai.

Usus besar merupakan bagian usus sepanjang 122 cm yang terdepan, dari keseluruhan bagian usus. Kanker usus besar dan rektum, atau kanker kolorektal, adalah kanker yang menyerang usus besar (kolon) atau rektum (ujung usus besar).

Sebagian besar kasus kanker usus besar berawal dari polip kecil, non-kanker (jinak), yang tumbuh di lapisan dalam usus besar. Bentuk polip memang kecil dan memiliki sedikit gejala. Polyp jenisnya bervariasi, tetapi sebagian besar merupakan tumor pra-kanker yang tumbuh perlahan selama bertahun-tahun dan tidak menyebar sampai invasi kanker di luar lapisan mukosa.

Ketika polip tumbuh, mutasi genetik tambahan akan semakin mengganggu sel. Ketika tumor pra-kanker merubah arah (tumbuh kearah dinding tabung daripada ke ruang di tengah-tengahnya) dan menyerang lapisan lain dari usus besar (seperti submukosa atau lapisan otot), polip pra-kanker akan berubah menjadi kanker.

Dalam banyak kasus, proses ini berlangsung secara lambat, setidaknya butuh waktu delapan hingga 10 tahun untuk berkembang menjadi kanker.

Ini dapat dicegah dan dapat disembuhkan jika memang dapat dideteksi pada tahap awal.

Kanker kolorektal memiliki banyak gejala namun tidak spesifik. Mereka termasuk:

  • Keletihan dan kelemahan yang tidak dapat dijelaskan sebagai akibat dari anemia dan okultisme (tidak terlihat) kehilangan darah.
  • Sesak napas,
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan,
  • Kembung,
  • Bentuk tinja kecil (kurus),
  • Diare atau sembelit,
  • Terdapat darah berwarna merah atau gelap pada tinja atau dalam rektum,
  • Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan,
  • Ketidaknyamanan yang akut pada perut seperti kram, gas atau nyeri,
  • Sebuah perasaan bahwa usus Anda tidak dapat kosong sama sekali,
  • Perubahaan dalam kebiasaan buang air besar Anda, termasuk diare atau konstipasi atau perubahan konsistensi tinja Anda, yang berlangsung selama lebih dari empat minggu

Kanker kolorektal dapat muncul selama beberapa tahun sebelum gejala berkembang. Gejala bervariasi menurut lokasi tumor di dalam usus besar. Kolon kanan lebih lebar dan lebih fleksibel. Bahkan bisa disebut relatif luas dibandingkan dengan sisa usus besar.

Banyak orang dengan kanker usus besar tidak mengalami gejala pada tahap awal penyakit. Ketika gejala muncul, maka akan bervariasi, tergantung pada ukuran dan lokasi kanker di usus besar Anda.

Penyebab spesifik kanker kolorektal masih belum diketahui secara pasti. Meskipun demikian, pemahaman bahwa hal ini disebabkan oleh faktor genetik, terus berkembang. Dokter mengetahui bahwa kanker usus besar terjadi ketika sel-sel sehat di usus besar berkembang tidak semestinya dalam sel genetik, DNA. Namun, faktor-faktor berikut juga dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal yang dimiliki oleh seseorang.

  • Usia: Lebih dari 90% orang didiagnosa mengidap kanker kolorektal setelah usia 50 tahun. Walaupun jauh lebih jarang, kanker usus besar dapat terjadi pada orang yang lebih muda.
  • Sindrom warisan yang meningkatkan risiko kanker usus besar. Sindrom genetik yang terdapat pada generasi keluarga dapat meningkatkan risiko kanker usus besar. Sindrom-sindrom ini termasuk poliposis adenomatous familial dan kanker kolorektal non-kolaps herediter, yang juga dikenal sebagai sindrom Lynch.
  • Riwayat keluarga kanker kolorektal (terutama orang tua atau saudara kandung). Jika terdapat lebih dari satu anggota keluarga menderita kanker usus besar atau kanker rektal, risiko Anda bahkan lebih besar lagi.
  • Riwayat pribadi penyakit Crohn atau kolitis ulserativa selama delapan tahun atau lebih.
  • Polip kolorektal
  • Riwayat pribadi kanker payudara, uterus atau ovarium.

Banyak faktor risiko yang ternyata dapat dimodifikasi; tindakan memodifikasi faktor-faktor risiko ini dapat mengurangi kemungkinan untuk menderita kanker kolorektal.

Modifikasi tersebut termasuk kontrol yang tepat (jika ada) dari:

  • Diet rendah serat, tinggi lemak: Kanker usus besar dan kanker rektum mungkin berhubungan dengan diet rendah serat dengan makanan olahan dan lemak trans.
  • Gaya hidup yang tidak aktif
  • Diabetes
  • Obesitas
  • Merokok
  • Konsumsi alkohol yang berat dan teratur
  • Terapi radiasi yang diarahkan pada perut untuk mengobati kanker yang sebelumnya, mungkin akan meningkatkan risiko kanker usus besar dan rektum.

Saat kanker kolorektal sudah terdiagnosa, maka tes tambahan perlu dilakukan untuk menentukan sejauh mana tahap pertumbuhan penyakit.

Tahap untuk kanker kolorektal diawali dari stadium I, merupakan stadium kanker yang paling rendah, hingga stadium IV, stadium kanker paling tinggi.

Tahap 1

Hanya melibatkan lapisan terdalam dari usus besar atau rektum. Probabilitas penyembuhan (prognosis yang sangat baik) untuk kanker kolorektal stadium 1 lebih dari 90%.

Tahap 2

Ditunjukan dengan pertumbuhan yang lebih besar dan perluasan tumor pada dinding usus besar atau rektum ke struktur yang sekitarnya.

Tahap 3

Merupakan manifestasi penyebaran kanker ke sekitar kelenjar getah bening tetapi belum mempengaruhi bagian lain dari tubuh Anda.

Tahap 4 (metastatik)

Kanker telah menyebar jauh, atau metastasis, ke organ lain yang tidak berdekatan atau kelenjar getah bening yang letaknya jauh dari lokasi tumor awal.

Pada setiap tahapan kanker usus besar, terdapat peningkatan risiko yang membuat penyakit kanker kambuh dan juga menyebabkan kematian karena ada penyebaran kanker (metastasis). Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, kanker yang lebih awal muncul memiliki risiko untuk kambuh dan menyebabkan kematian lebih rendah. Saat seseorang menderita kanker kolorektal stadium 4 dapat diketahui bahwa prognosisnya buruk. Namun, masih ada kemungkinan untuk kanker kolorektal stadium 4 diobati (tergantung lokasi penyebaran kanker).

1. Lakukan pemeriksaan untuk kanker usus besar

Ada beberapa opsi pemeriksaan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mohon konsultasikan bersama dengan dokter untuk opsi yang ada, untuk memutuskan tes mana yang sesuai untuk Anda.

Satu pemeriksaan umum pada usus besar dilakukan melalui kolonoskopi. Kolonoskopi adalah prosedur yang memungkinkan seorang gastroenterolog untuk memeriksa bagian dalam usus besar dengan kolonoskop, yang merupakan tabung panjang yang fleksibel dan tipis sepanjang 122 cm dengan kamera dan sumber cahaya di ujungnya, yang terhubung ke monitor. Ketika pasien dibius, di bawah kendali visual, ujung kolonoskop dimasukkan ke dalam anus dan kemudian secara perlahan diteruskan ke dalam rektum dan melewati usus besar, biasanya sejauh sekum yang merupakan bagian yang terdepan dari usus besar.

Salah satu rekomendasi yang telah diterima secara luas di masyarakat adalah orang sehat yang memiliki risiko normal untuk terkena kanker usus besar harus menjalani kolonoskopi pada usia 50 dan setiap 10 tahun sesudahnya, jika mereka benar-benar normal. Bagi pasien yang memiliki polip yang ditemukan di kolonoskopi, mereka harus kembali lebih awal untuk mengulangi kolonoskopi guna mendeteksi polip baru.

Namun, dengan meningkatnya risiko, seperti mereka yang memiliki riwayat keluarga pengidap kanker usus besar, harus mempertimbangkan pengecekkan lebih awal.

2. Lakukan perubahan gaya hidup untuk mengurangi risiko Anda

Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi risiko kanker usus besar dengan membuat perubahan dalam kehidupan sehari-hari Anda.

Makan berbagai sayuran. Sayuran mengandung vitamin, fitonutrien, mineral, serat dan antioksidan, yang dapat berperan dalam pencegahan kanker. Pilih berbagai sayuran sehingga Anda mendapatkan berbagai vitamin dan nutrisi.

Minum alkohol secukupnya, kalau bisa tidak sama sekali. Jika Anda memilih untuk minum alkohol, batasi jumlah alkohol yang Anda minum tidak lebih dari satu gelas sehari untuk wanita dan dua untuk pria.

Berhenti merokok. Bicaralah dengan dokter atau terapis Anda tentang cara untuk berhenti merokok.

Tingkatkan rutinitas olahraga setiap hari dalam seminggu. Cobalah untuk setidaknya olahraga selama 30 menit setidaknya 4 kali seminggu. Jika Anda sudah tidak aktif berolahraga, mulailah perlahan dan bangkitkan diri secara bertahap hingga 30 menit. Bicarakan dengan dokter Anda sebelum memulai program latihan apa pun.

Pertahankan berat badan yang sehat/ideal. Jika Anda berada pada berat badan yang sehat/ideal, berusahalah untuk mempertahankan berat badan Anda dengan menggabungkan diet sehat dengan olahraga harian. Jika Anda perlu menurunkan berat badan, tanyakan dokter Anda tentang cara-cara sehat untuk mencapai tujuan Anda. Berusahalah menurunkan berat badan secara perlahan dengan meningkatkan jumlah olahraga yang Anda dapat dilakukan dan kurangi jumlah kalori yang Anda makan.

Ada hal-hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah kanker usus besar. Nikmati hari;periksakan diri. Selamatkan nyawa secara dini dengan melakukan deteksi lebih awal.

Buat Janji Temu
Beli Paket Sekarang


28.09.2018
Apa itu Prehipertensi dan Seberapa Seriuskah Kondisi Tersebut?

Layaknya sebuah lampu kuning di lampu lalu lintas yang berfungsi sebagai tanda peringatan, prehipertensi merupakan suatu tanda peringatan penyakit kardiovaskular. Artinya Anda mungkin memiliki risiko tekanan darah tinggi di masa yang akan datang. Ada beberapa tanda komplikasi yang mengikuti datangnya hipertensi, di antaranya serangan jantung, stroke, penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan gagal ginjal. Jika Anda kelebihan berat badan, kurang bergerak, memiliki kebiasaan merokok, minum alkohol secara berlebihan, makan makanan dengan kadar garam tinggi, dan memiliki riwayat keluarga hipertensi, Anda kemungkinan besar berisiko terkena prehipertensi. Prehipertensi biasanya tidak menimbulkan gejala dan didiagnosis di klinik dokter atau apotek ketika dilakukan pengukuran tekanan darah selama pemeriksaan kesehatan rutin.

Read More
28.09.2018
Hipertensi - Si Pembunuh yang Menyerang Diam-diam

Hipertensi, atau tekanan darah tinggi, bukanlah sebuah penyakit yang dapat terjadi begitu saja. Penyakit ini berkembang perlahan dan disebabkan oleh berbagai hal, sebelum akhirnya kita sadar dan terlalu akut untuk diobati. Padahal, sebenarnya sejak awal kondisi hipertensi bisa dikendalikan secara efektif melalui perubahan gaya hidup, dan obat-obatan jika diperlukan.

Read More
14.09.2018
7 Fakta Penyakit Jantung Koroner (CAD) yang Harus Anda Ketahui

Jenis penyakit jantung yang paling sering ditemui adalah penyakit jantung koroner, atau disebut juga sebagai penyakit arteri koroner, CAD (Coronary Artery Disease), arteriosklerosis koroner, dan aterosklerosis koroner. Berikut adalah 7 Fakta Penyakit Jantung Koroner (CAD) yang Harus Anda Ketahui

Read More
28.12.2018
Apakah Benjolan di Payudara Saya adalah Kanker?

Benjolan pada payudara adalah pembengkakan atau tonjolan kecil/besar pada payudara yang mempunyai perbedaan signifikan dibandingkan di area lain pada kedua payudara. Benjolan payudara dapat menyerang wanita dan pria, namun umumnya sering terjadi kepada wanita.

Read More
17.12.2018
Ketahui Gejala Miom dan Cara Mengobatinya

Fibroid rahim (atau miom) adalah sel-sel nonkanker yang bertumbuh pada uterus (rahim) dan kerap muncul di masa-masa subur wanita. Fibroid rahim, juga disebut dengan leiomioma atau mioma, tidak berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker rahim. Selain itu, fibroid ini hampir tidak pernah berkembang menjadi kanker.

Read More
09.10.2018
Vaginitis: Apa yang penting diketahui oleh wanita?

Kesehatan vagina sangat penting dipertahankan oleh setiap wanita demi kondisi tubuh yang prima. Berbagai masalah pada vagina dapat menyebabkan masalah kesuburan, gairah seksual, dan kemampuan untuk orgasme. Lalu juga dapat memengaruhi tingkat stress, kepercayaan diri, dan hubungan dengan pasangan kita.

Read More
27.11.2018
Gejala dan Penanganan Tepat Untuk Glukoma

Glaukoma (sering disebut juga sebagai glukoma) berkaitan dengan kondisi di mana tekanan pada mata berada di atas batas normal (hipertensi okular). Jika tidak diobati atau tidak dikontrol, glaukoma dapat menjadi penyebab utama hilangnya penglihatan tepi (penglihatan perifer) yang dapat berujung pada kebutaan.

Read More
17.10.2018
Yang Perlu Diketahui untuk Mencegah Katarak

Mata kita memiliki beberapa bagian, salah satunya adalah lensa kristal alami mata yang berfungsi membantu kita fokus pada manusia dan objek lain pada jarak tertentu. Sayangnya, seiring dengan bertambahnya usia seseorang, lensa ini sering menegang dan mengeras, akibatnya lensa kehilangan kelenturan dan kemampuannya untuk fokus, sehingga menimbulkan masalah penglihatan.

Read More
27.12.2018
Berisiko terserang penyakit liver? JANGAN percaya 6 mitos ini!

Seberapa seringkah kita mendengar bahwa penyakit liver (penyakit hati) hanya menyerang seseorang yang merupakan peminum alkohol berat, atau terlalu sering begadang sampai larut malam?

Read More
17.12.2018
Benarkah ini keluhan maag biasa, atau jangan-jangan batu empedu?

Seringkah dalam keseharian, kita merasakan mual dan sakit di sekitar ulu hati, serta tidak nafsu makan? Sebagian besar mungkin dengan cepat akan mengatakan bahwa itu adalah gejala maag atau penyakit asam lambung lainnya.

Benarkah demikian? Karena seringkali, gejala di atas justru mengindikasikan adanya batu empedu.

Gejala maag dan batu empedu memang sangat mirip, karena keduanya dapat dirasakan di area sekitar ulu hati, yakni lambung dan kantong empedu. Tetapi terkadang memang tidak sesederhana itu, karena gejala batu empedu lebih sering menyerang setelah kita makan. Namun tetap saja banyak masyarakat kita keliru menganggap gejala batu empedu yang menyerangnya sebagai gejala penyakit maag. (this is the part where we elaborate them)

Penyakit batu empedu dapat terjadi akibat membatunya cairan yang dihasilkan oleh hati (liver) dan menumpuk di kantung empedu.

Sementara maag merupakan penyakit yang muncul akibat adanya luka atau bakteri (bernama H. Pylori) di lambung, usus halus, dan/atau kerongkongan, sehingga mengganggu pencernaan dan asam lambung.

Bagaimana cara membedakannya? Sebelumnya, mari pahami batu empedu lebih dalam.

Read More
17.12.2018
Perut sakit setelah makan pedas? Kenali gejala asam lambung yang lain

Hobi makan pedas atau makanan yang asam? Seperti sambal atau rujak, tetapi sering merasa menderita akibat sakit atau mulas pada perut dan tenggorokan terasa panas, setelah menikmati makanan favorit tersebut? Bisa jadi rasa tidak nyaman ini adalah salah satu gejala penyakit yang umum dialami, jika kita mengabaikan kesehatan lambung. Dalam dunia medis penyakit ini dikenal dengan nama Gastroesophageal Reflux Disease (GERD), atau masyarakat umum mengenalnya sebagai penyakit asam lambung.

Read More
06.12.2018
Stroke - Penyebab Utama Kematian Ketiga dan Apa Yang Anda Bisa Lakukan Tentang Ini

Saat sedang berlibur dengan keluarganya di Bogor, Jonathan*, 52 th, mengalami serangan stroke serius namun menolak untuk dibawa ke rumah sakit oleh istrinya hingga terlalu terlambat. Akibatnya, istrinya kerepotan mengurus administrasi rumah sakit, konsultasi dengan dokter, dan membawa suaminya pulang ke rumah dalam keadaan tidak berdaya. Istri Jonathan adalah seorang pengusaha dengan 4 anak yang berusia di bawah 19 tahun dan Ia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan efek berkepanjangan dari serangan stroke yang dialami Jonathan. Proses beradaptasi ke gaya hidup yang baru di mana Jonathan harus selalu dilayani baru terasa beratnya saat mereka pulang ke Jakarta. Jonathan harus menghabiskan waktu di rumah sakit selama 1 bulan, dan mengunjungi pusat rehabilitasi secara rutin selama 3 bulan. Ia telah kehilangan kemampuan untuk berbicara, menulis atau bahkan sekedar bergerak untuk menunjukkan apa yang ia butuhkan.

Read More
29.11.2018
Aces Awards

Kesuksesan dari sebuah kerjasama

Read More
01.11.2018
Pentingnya Tes Kesehatan

Periksakan kesehatan Anda serta keluarga di Island Hospital dan nikmati anugerah kesehatan yang sempurna.

Di kehidupan yang sibuk di mana kita seringkali berpergian, seringkali kita lupa akan kesehatan.

Read More